Unknown Unknown Author
Title: Perbaikilah Niat dan Hindari Murka Allah
Author: Unknown
Rating 5 of 5 Des:
Ditulis oleh: Al-Ustadz Idral Harits Hafizhahullah Kembali kita berbagi, semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang mau ...

Ditulis oleh: Al-Ustadz Idral Harits Hafizhahullah

Kembali kita berbagi, semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang mau mengambil peringatan dan petunjuk,yang datang dari Allah dan Rasul-Nya berdasarkan bimbingan ulama ahlissunnah. Lebih-lebih lagi, al haq atau al hikmah adalah barang berharga orang-orang mukmin yang tercecer, maka siapapun yang menyerahkan kepadanya,itu adalah miliknya..dan sudah tentu,orang mukmin pasti mengetahui itu adalah miliknya,karena Allah telah meletakkan dalam hatinya al furqan, sebagai buah taqwAllah yang selama ini dipupuk dan ditumbuh kembangkannya.

Semoga Allah merahmati Ats Tsauri yang pernah mengatakan bahwa tidak ada yang paling berat beliau tangani selain masalah niat..

begitu pula halnya yang dirasakan oleh Sahl bin Abdullah At Tustari yang berkata, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat dirasakan oleh nafsu dari pada keikhlasan. Sebab, nafsu tidak menerima bagian sama sekali di dalamnya..!

Sungguh, niat yang ikhlas bukanlah hiasan bibir, tetapi keadaan hati yang hanya mengharap Wajah Allah.

Yusuf bin Al Husain ar Razi berkata,”Yang paling sulit (juga paling mulia) di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berupaya keras menghilangkan riya dari hatiku, namun seakan-akan dia tumbuh lagi di dalamnya dalam corak warna yang lain.”

Riya adalah dosa besar dan dia adalah sifat orang-orang munafik. sebagaimana diterangkan Allah Ta’ala dalam firmanNya (an nisa’ 142). Allah Ta’ala juga mengancam mereka (al ma’uun 4, dst).

Mereka yang di ancam ini ternyata adalah orang-orang yang mengerjakan shalat.

Sahwu yang di sebut dalam ayat ini ialah lalai dari apa yang wajib dalam shalat, bisa jadi lalai dari waktu, sebagaimana menurut ibnu Mas’ud dll. Bisa pula dari hadirnya hati dan lalai dari ke khusyukan.

Allah Ta’ala mengisahkankan bahwa kaum munafik itu juga shalat, tetapi Allah Ta’ala sifati mereka dengan lalai, yaitu dari waktunya yang wajib, atau dari keikhlasan dan hadirnya hati yang wajib.
Oleh sebab itu, mereka dikatakan riya.

Ibnul Qayyim merajihkan, bahwa makna ayat ini ialah mereka meremehkan waktunya dan cara menunaikannya.

Mereka suka menunda-nunda pelaksanaannya sampai habis.

Mereka tidak memerhatikan shalatnya, tidak menjaga waktu dan syarat-syaratnya, tidak peduli apakah dia shalat ataukah tidak. Orang munafik itu tidak meyakini wajibnya shalat, mereka hanya menampakkan kepada kaum muslimin bahwa mereka shalat, kalau sendirian, mereka tidak shalat.

Dalam Ayat ke lima Allah menerangkan bahwa sifat mereka ialah tidak mengerjakan shalat yang mereka lakukan secara lahiriah, sebagaimana yang dikerjakan kaum muslimin yang hakiki, bahwa shalat itu wajib dan mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun firman Allah:

للمصلين

(Bagi orang-orang yang shalat), adalah inti dari

الذين يكذب بالدين….

(Yaitu orang-orang yang mendustakan agama…)

dengan demikian seakan-akan maknanya ialah kecelakaanlah bagi mereka yang shalat, karena lalai dari shalatnya, riya dan tidak mau meminjamkan sesuatu biarpun remeh..

Kata syaikh Sa’di, kalau dengan yang kurang berharga saja dia tidak mau meminjamkan karena kikirnya, lebih-lebih lagi barang yang berharga. Dalam ayat ini tidak dikatakan lalai dalam shalatnya, karena tentang hal ini siap apapun bisa mengalami, dan karena itulah di syariatkan sujud sahwi.

Ringkasnya, lalai dari shalat adalah perbuatan orang yang munafik, sedangkan lalai dalam shalat bisa menimpa orang yang beriman.

Wallahu a’lam.

Advertisement

 
Top